ketika IDE terbentur MATERI…
“Terasa tidak tulus lagi ketika sesuatu yang abstrak di variabel kan”, begitu kata teman saya, dia kuliah di psikologi, setelah melihat metode pendekatan yang dilakukan oleh para psikiater dalam menganalisa pasien nya.
“Bagaimana bisa Ide di nilai 1 (baca: Satu) atau 2 (baca: dua), karena Ide adalah abstrak”,
Ini yang sering dialami oleh teman-teman yang ingin menikah, ketika rapat keluarga, banyak sekali pemikiran yang baik, namun kadang-kadang menyesakkan.
“Seharusnya pihak pria yang mengeluarkan duit semuanya”, “Oh tidak, justru seharusnya pihak perempuan”, dengan bermacam-macam alasan kultural, bla…bla…bla…
Menikah yang seharusnya menjadi institusi Ide dalam mengimplementasikan Cinta pun berubah menjadi Pasar.
Ada lagi, teman yang ingin membuat terobosan baru dalam berbisnis di internet, saya salut dengan ide nya, karena memang bagus dan asli buatan indonesia, tapi sayang sekali, dia tidak punya modal untuk mewujudkannya, padahal kebutuhan operasional website tersebut, relatif mahal.
Dia mencoba untuk mencari investor, tapi tetap saja, dia selalu terbentur dengan pikiran dangkal si tuan besar.
Lagi-lagi, Materi yang menang…
“Sampaikan kepada mereka, MATERI tidak nyata, hanya kumpulan molekul-molekul yang saling berikatan, suatu saat nanti molekul-molekul tersebut akan lepas dari ikatannya, tidak ada yang tersisa, kecuali Ide yang pernah dimilikinya.”.
We were once young…
Menceritakan masa muda yang berwarna dan dapat diceritakan kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya adalah suatu kebanggaan bagi seseorang yang pernah menjadi muda.
Ada kisah seorang laki-laki yang datang dari perantauan ke jakarta, kemudian menghidupkan dirinya dengan berjualan rokok keliling bersama dengan 2 temannya, melawan ganasnya udara panas di siang dan malam hari, dan memantapkan hatinya yang selalu gundah akan masa depannya, menumpang di tempat saudaranya dengan ruangan alakadarnya, sampai akhirnya dia dan kedua temannya bisa membentuk keluarga yang sederhana, memiliki anak dan cucu, dan berharap, suatu saat nanti anak dan cucunya dapat meneruskan/mengikuti perjuangan hidupnya.
Namun yang terjadi adalah pererseteruan antara anaknya karena perbedaan pandangan hidup, entah perempuan atau laki-laki, kadang-kadang sifat keras kepala seorang anak dapat mengalahkan hatinya, dari penyikapannya yang lumrah sampai yang tidak lumrah, “Ini hidup saya, bukan hidup ayah!”. Kira-kira seperti itulah.
dia pernah bercerita kepada anaknya sewaktu masih berumur 10 atau 12 tahun, dia pernah menangis di ujung gang dekat “senen” (nama tempat di jakarta), dia menangis sambil tidur kedinginan di gerobak sampah yang baru saja dibersihkan, sambil tangannya menunjuk ke tempat yang diceritakan, dan tanpa disadari matanya berkaca dengan mengingat kehidupannya sewaktu kecil.
Sampai dia tumbuh menjadi pemuda yang tahan akan ganasnya kehidupan, di dalam otaknya cuman satu keinginan, dia hanya ingin saudara-saudara perantauannya dan anak-anaknya tidak mengalami apa yang pernah dialaminya.
sampai pada hari ini, dia menjadi lemah dan semakin lemah, tidak tampak di matanya semangat muda yang dulu dimilikinya, yang ada hanya cerita yang keluar dari mulutnya, agar anaknya dapat mengerti, apa yang diinginkannya.
Cerita ini mungkin bukan untuk kita yang masih muda, tapi cerita ini mungkin bisa membuat kita berpikir kembali, apakah benar kita pernah menjadi muda, dan suatu saat nanti (insya Allah) dapat menceritakannya, agar anak dan cucu kita bisa melakukan yang lebih baik dari kita, dan bisa melakukan yang lebih baik dari kita…
(jogja)
Cangkru’an dan diskotik
Budaya ngongko-ngongko adalah budaya “khas” orang indonesia, beberapa orang menganggap ngongko-ngongko membuat tidak produktif, karena menstimulus orang-orang tidak berkerja, merasa aman, hanya ngomongin konsep tapi tidak pernah menjalankan, dll. (kalau itu alasannya, nggak perlu ngongko-ngongko juga ada yang memiliki sifat-sifat seperti diatas.
)
Cangkru’an sebagai tempat ngongko-ngongko, disadari atau tidak, telah menjadi tempat menyambung silaturahmi, budaya kritis dan bertutur pun juga ada, tapi yang lebih penting, kita tidak merasa sendirian, seperti orang kota, kalau orang kota, diskotik adalah tempat untuk ‘ngongko-ngongko’ dengan segmen yang berbeda tentunya, dan yang membedakan adalah konsepnya. and the concept does matter…
Cangkru’an
Sambil makan rawon kaki kambing di jalan Colombo, Kaji Bokir (Baca: mas Farid) mengemukakan bahwasannya budaya Cangkru’an adalah budaya yang berasal dari Jawa Timur, biasanya sambil ngongko-ngongko di cangkru’an, ada suguhan utama, yaitu “KOPI”, dengan racikannya yang khas pada kopi tersebut, yang pasti “KENTAL” adalah kata nomor satu untuk menggambarkan “KOPI” nya cangkru’an, dengan gorengan sebagai suguhan kedua. Bagaimana dengan suasananya, tentu sangat bersahaja, sederhana, dan bersahabat.
Kalau anda penikmat KOPI, silahkan anda mengunjungi Cangkru’an di daerah Jawa Timur, jika KOPI-nya kurang enak menurut anda, setidaknya anda akan mendapatkan suasana yang berbeda di sana, suasan yang bersahaja…
Diskotik
Budaya non-pribumi ini budaya yang muncul di perkotaan, stressnya pekerjaan adalah salah satu faktor sebagian orang kota untuk mengunjungi tempat tersebut, selain melepas penatnya pekerjaan, tempat tersebut juga sebagai ajang untuk bertemu dengan teman-teman baru dan sebagai trend sebagian orang kota, suasananya sangat berbeda dengan Cangkru’an, minuman “ber-pajak tinggi” dan suara-suara yang membuaikan adalah ciri khas yang ditawarkan oleh diskotik, sama dengan Cangkru’an, di diskotik juga terdapat suasana yang sangat “bersahabat” (cuman kali ini saya berikan tanda petik di antara kata bersahabat
).
Cangkru’an dan diskotik memiliki satu kesamaan yaitu sebagai tempat untuk bersosialisasi yang merupakan ciri dasar sebagai manusia, yaitu makhluk yang bersosial, memiliki komunitas, dan sebagai ajang pengumuman untuk diakui terhadap eksistensi dirinya di lingkungan komunitasnya.
(Jogja)